Puisi Pilihan Lomba Rampak Puisi

Krawang Bekasi
Chairil Anwar
1948

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi


Jejak Juang
Rudy Aliruda
2012

Tanah air
Tanah lahir yang merah
Air kehidupan yang jernih

Berjuta tubuh yang gugur diatas tanah tumpah darah
Telah dicatat sebagai riwayat
Diabadikan dalam sejarah
Bakti diri bagi negeri
Bangga jiwa bagi bangsa
Bumi pun menangis,memeluk jasad pahlawan yang berjasa
Tanda kasih yang nyata sepanjang masa
Hingga sampai saat ini. kita hirup udara merdeka yang segar
Tanpa rasa takut dan gentar

Tanah air
Tanah lahir yang indah
Air kehidupan yang sejuk

Berjuta anak bangsa telah tumbuh diatas bumi nusantara
Lanjutkan perjuangan
mengisi kemerdekaan
Buktikan dengan prestasi
Nyatakan dengan mahakarya
Agar terjaga jejak juang, bagi kejayaan Indonesia tercinta


Tanah Air Mata
Sutardji Calzoum Bachri
1991

Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Puisi Pilihan Lomba Rampak Puisi"

 
Copyright © 2015 Fauzi Ahmad
Template by Kunci Dunia
Kembali ke atas