Tausiah: Asal Ikhlas Pasti Ada Kemudahan


Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,” (Q.S. Alam Nasyrah: 1) 

Pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW tersebut bertujuan untuk menegaskan bahwa Allah telah melapangkan dada kanjeng Nabi dengan hidayah, iman dan Al-Qur’an.

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. (Q.S. Al-An’am: 125)

Sebelumnya hati Nabi terasa sangat berat menghadapi berbagai problem sosial, berbagai ucapan yang menyakitkan seperti hinaan, fitnah dan caci maki, bahkan orang Arab berusaha menghabisi Nabi dengan berbagai cara seperti pemboikotan, pengusiran sampai akhirnya merencanakan membunuh (mengeksekusi) Nabi.  Tentu sebagai manusia Nabi mengalami rasa sedih, bingung, tegang dan lain-lain, hanya kemudian Allah menyelamatkannya dari berbagai problem tersebut. Allah mengirim malaikat Jibril untuk menengoknya sambil memberikan wahyu kepadanya seperti dalam surat Yasin ayat 76 yang artinya:
Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu” (Q.S. Alam Nasyrah: 2-3)

Beban yang dialami oleh Nabi adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dari berbagai aspek di segala bidang tanggung jawab, baik dakwah, pendidikan, sosial, keamanan, kesehatan yang harus direalisasikan oleh Nabi guna menyelamatkan umat. Allah lapangkan hatinya dengan adanya ampunan yang Allah berikan kepadanya seperti dalam Q.S. Al-Fath: 2 yang artinya:
Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang…” (Q.S. Al-Fath: 2)

Wizraka asalnya diartikan dosa, tapi yang dimaksud di sini bukan seperti dosa pada umumnya sebab Nabi terjaga (ma’sum) dari berbuat dosa. Dosa Nabi maksudnya adalah langkah yang telah Nabi lakukan seperti memberi izin kepada orang munafik untuk tidak beperang ketika ada udzur atau mengambil tebusan dari para tawanan perang dan bermuka masam ketika berhadapan dengan Abdullah bin Ummi Makhtum yang buta.

Demikian beratnya perasaan Nabi dalam menghadapi umat, Nabi tidak ingin umatnya menderita, apalagi terjerumus pada dosa yang berujung pada siksaan.

“...berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. At-Taubah: 128)

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya orang mu’min bila melihat dosa bagaikan melihat gunung yang akan menimpa dirinya, sedangkan orang munafik melihat dosanya bagaikan memandang lalat yang terbang di depan hidungnya.”

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (Q.S. Alam Nasyrah: 4)

Artinya Allah meninggikan nama, derajat, sebutan Nabi dalam setiap saat sehingga tidaklah disebut nama Allah kecuali Nama kanjeng Nabi disebut pula seperti dalam dua kalimat syahadat, adzan, iqomat, khutbah, dan lain sebagainya. Kedudukan Nabi menjadi sedemikian tinggi karena dadanya lapang, hatinya lega, otaknya hanya memikirkan orang banyak, tahan dalam menghadapi berbagai cuaca, serta al-Qur’an selalu ada dalam benaknya karena dikirim setiap saat oleh Malaikat Jibril.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Alam Nasyrah: 5-6)

Artinya setiap ada penderitaan pasti ada jalan keluar asal disertai dengan usaha dan kesabaran, seperti yang dialami oleh Nabi. Betapapun sulitnya hidup beliau di Makkah ternyata berbeda ketika Nabi berada di Madinah. Nabi mendapat banyak kemudahan dan berbagai fasilitas dari golongan Anshar.

Penderitaan pasti sebentar dibandingkan dengan kemudahan. Karena kesulitan itu temporer sedangkan kebahagiaan adalah permanen. Tapi kalau tidak sabar dengan penderitaan yang sebentar maka harus menerima penderitaan seumur hidup. Manusia diberi sehat pasti lebih lama daripada diberi sakit, tapi terkadang manusia suka melupakan terhadap nikmat sehat yang begitu lama dibandingkan dengan penderitaan sakit yang sebentar tadi.

Kesulitan adalah ujian dari Allah. Allah menguji syukur kita agar kita tidak lupa. Biasanya manusia sadar adanya nikmat apabila nikmat itu sudah tidak ada. Nikmatnya sehat terasa bila sudah sakit, nikmatnya kaya terasa bila sudah miskin, nikmatnya hidup terasa kalau sudah mati. Dengan mensyukuri nikmat berarti kita mengharapkan kekalnya nikmat, tapi dengan kufur nikmat berarti kita telah mempersiapkan diri untuk hilangnya nikmat tersebut.

Allah menguji kita untuk menyadarkan bahwa nikmat itu ada. Para ulama dahulu membiasakan untuk menengok orang sakit, melihat rumah sakit, mengadakan kunjungan ke tempat-tempat orang-orang terlantar atau kumuh agar menyadari keadaan kita, sehingga kita menjadi bersyukur. Seperti hadits Nabi SAW.:
Lihatlah yang ada di bawah kamu dan tidak boleh melihat pada yang ada di atas kamu supaya kamu tidak lupa nikmat” (Al-hadits).

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S. Alam Nasyrah: 7-8)

Maksudnya bila kamu sudah selesai mengerjakan suatu pekerjaan mulailah dengan pekerjaan lain. Tidak ada kata selesai dalam bekerja, karena pekerjaan selalu ada. Ayat ini mendorong agar kita terus mengerjakan pekerjaan sepanjang Allah masih memberi hidup kepada kita (Tafsir Al-Maraghy).

Bila sudah mengerjakan urusan-urusan dunia maka selanjutnya mengerjakan urusan-urusan akhirat, bila selesai mengajak manusia untuk Islam selanjutnya mengajak untuk beribadah kepada Allah (Safwatu al-Tafasir). Niatkan semua karena Allah, ikhlas liajlillah.

Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Q.S. Al-Lail: 19-21)
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Tausiah: Asal Ikhlas Pasti Ada Kemudahan"

 
Copyright © 2015 Fauzi Ahmad
Template by Kunci Dunia
Kembali ke atas