Valentine: Menjual Kebodohan Lewat Gaya Hidup

Oleh: Azeza Ibrahim Rizki, Aktivis Kajian Zionisme Internasional 

Di tengah munculnya kesadaran-kesadaran baru akan perayaan Valentine yang jauh dari nilai Islam, kita mafhum bahwa sebagai gaya hidup, perayaan aneh semacam ini sulit hilang dari benak kaum muda. Yang terutama membuat sulit adalah bahwa saat ini media dan industry memberikan sesuatu yang penting nilainya bagi kebanyakan anak muda, yaitu soal eksistensi.
Eksistensi ini terutama berkaitan tentang penerimaan dan pengakuan sosial dari orang-orang sekitar. Saat ini, jati diri kaum muda muslim tidak dibentuk dari dalam dirinya sebagai seorang muslim, tapi lebih kepada tekanan komunitas, bentukan pergaulan, dan pengaruh luaran lainnya, terutama tampilan media.
Secara umum karakter pemuda kita lemah. Beberapa faktor diantaranya adalah ketidaksiapan orang tua terhadap tantangan zaman yang berpengaruh pada tumbuh kembang remaja, sekolah yang gagal membangun jiwa mandiri remaja, dan rusaknya jaring pengaman sosial.
Tantangan yang dihadapi para orang tua dalam mendidik remaja sudah naik beberapa kali lipat sejak dua dekade terakhir. Sekolah dengan orientasi bisnis membuat banyak remaja terlantar secara psikologis. Dan jaring pengaman sosial berupa adab dan moral rusak oleh konsep pemahaman serba relative dan permisif yang diajarkan secara massif lewat berbagai media.
Remaja Bergaya, Remaja Merana
Bagi dunia bisnis modern saat ini, tidak ada yang tidak bisa dijual. Semua dapat dikomersialkan, bahkan soal jati diri. Produk-produk yang kita lihat saat ini tidak hanya sekedar menawarkan nilai manfaat bagi para konsumennya, tapi produk-produk ini juga menawarkan sesuatu yang lebih, prestise.
Seven Eleven bukan sekedar “warung” tempat membeli makanan, tapi ada “gaya” yang ditawarkan. Dengan nongkrong di Seven Eleven, maka citra dari Seven Eleven itu akan menjadi predikat tambahan sosial kita.
Contohnya begini, jika nongkrong di Seven Eleven identik dengan tempat nongkrong anak alay, maka dengan sendirinya jika anda nongkrong disana, maka anda akan dicap anak alay.
Maka jangan heran jika saat ini, hampir semua produk dagangan, tidak hanya menjual nilai manfaat dari sebuah produk, tapi juga nilai ”citra” nya.
Dan sekarang mari kita renungkan, bagaimana nasib para remaja kita yang “terasing” di rumah dan juga di sekolah menghadapi derasnya sugesti dari berbagai media yang menampilkan beraneka macam produk.
“Malu ga punya smartphone”, “Ga pake behel gigi ga keren”, “Pakai lensa kontak bikin tambah cantik”, “Ga ngerokok ga punya teman”. Kalimat-kalimat ini sangat mungkin bersarang di kepala jutaan remaja muslim Indonesia.
Dari sini saja kita sudah banyak mendapatkan kisah-kisah sedih, seperti seorang anak yang tega melukai orang tuanya karena tidak dibelikan motor, remaja putri yang rela menjual diri demi kebutuhan gaya hidupnya, dan lain lain.
Cerita Derita Cinta Remaja
Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana. “Apakah saat ini remaja muslim Indonesia memahami arti cinta?”
Mari secara aklamasi kita jawab “tidak”. Ada beberapa alasan mengapa “tidak” menjadi jawaban. Pertama, mayoritas remaja muslim Indonesia tumbuh dalam kondisi psikologis yang lambat. Bendri Jaysurrahman, seorang pakar konseling remaja menyatakan bahwa lambatnya pertumbuhan psikologis remaja saat ini dapat dilihat dari lemahnya mereka memilkul tanggung jawab. Cinta sebagai atribut psikologis tentu sulit dipahami konsepsinya bagi mereka yang “terlambat” tumbuh.
Kedua, rusaknya konsep cinta akibat permisifme. Ketika apa saja boleh dilakukan, maka pergaulan kebablasan antara remaja lain jenis bisa disebut cinta, hanya dengan dasar suka-sama suka yang sifatnya bisa jadi hanya sesaat.
Dua alasan ini sudah cukup membuat para remaja dengan cerita cintanya menderita. Jika kita bicara kasus, hampir tak terhitung jumlah remaja yang depresi hanya karena patah hati.
Walau demikian, kebiasaan buruk remaja dengan dalih cinta ini tidak lantas surut walau banyak deritanya. Kebutuhan dasar, rasa ingin tahu dan alasan lain dieksploitasi sedemikian rupa oleh media massa, seperti sinetron, lagu-lagu, iklan gaya hidup dan lain-lain. Sehingga remaja tetap tergiur dengan relasi haram dengan lawan jenis, walau menderita berkai-kali.
Valentine, Merayakan Kebodohan
Mari kita buka mata baik-baik. Perayaan Valentine tidak pernah punya urusan dengan cinta kasih. Buktinya sudah berkali-kali Valentine tapi remaja kita masih bingung tentang apa arti cinta, kasih, dan sayang. Yang sering ditemukan di perayaan Valentine adalah jualan coklat, pelecehan terhadap remaja wanita lewat zina dengan alasan suka sama suka, dan propaganda kondom.
Satu soal syahwat, sisanya barang jualan.
Jikalah masih Valentine itu dianggap sebuah hari yang patut dirayakan, mari kita jujur mengakui bahwa perayaan hari Valentine adalah perayaan tentang betapa bodohnya gaya hidup kita ini. Kepatuhan remaja kita yang dengan senang hati di setir propaganda media sungguh sangat memilukan.
Perlu untuk selalu diingat, bahwa menjual kebodohan lewat gaya hidup tidak hanya lewat moment-moment seperti Valentine. Kebodohan dijual secara regular tiap harinya lewat produk palsu, kampanye bohong, dan iklan-iklan dusta. Disini, kepekaan kita sebagai umat Islam perlu terus untuk dikuatkan, karena seringkali karena keterbatasan pemahaman, kita dilenakan oleh perayaan dan hingar bingar kebodohan.
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. QS Annisa: ayat 9 

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Valentine: Menjual Kebodohan Lewat Gaya Hidup"

 
Copyright © 2015 Fauzi Ahmad
Template by Kunci Dunia
Kembali ke atas