Tausiah: Hikmah dari Kemahatahuan dan Kemahakuasaan Allah

Oleh: DR. KH. Abun Bunyamin, MA*)
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمٰوٰتِ وَمَا فِي الْاَرْضِ وَاللهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Katakanlah, “Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Ali Imran : 29)

Ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya tentang larangan berpihak serta mengutamakan hubungan dengan orang-orang kafir daripada orang-orang mukmin. Dalam Tafsir al-Maraghiy disebutkan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui apa yang ada dalam diri kita apakah kita mencintai dan memihak orang-orang kafir atau hanya bersiasat untuk menyelamatkan diri (taqiyyah). Apabila kita mencintai dan memihak mereka maka kita akan diberikan balasan yang sesuai namun apabila hati kita tetap teguh dalam keimanan maka Allah akan memberi ampunan-Nya.

Keputusan Allah untuk menghukum atas pemihakan terhadap orang-orang kafir atau pengampunan atas taqiyyah semuanya didasarkan pada ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Seperti dalam firman Allah:
اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (QS. Al-Mulk: 14)
Senada dengan pendapat tersebut, Imam al-Qurthubiy dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini mengimplikasikan bahwa Allah melarang kita untuk menyembunyikan kasih dan menampakkan kecondongan kita terhadap orang-orang kafir karena hal tersebut akan mengakibatkan hukuman yang tak terperi dari Allah, karena Dia mengetahui apa yang tersembunyi dan nampak dari kita sehingga Dia membalas kebaikan dengan kebaikan atau keburukan dengan keburukan pula.

Dalam Tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa Allah mengetahui semua yang tersembunyi dan semua yang tampak, dan bahwa tiada yang samar bagi Allah suatu hal pun dari mereka, melainkan Dia mengetahuinya dan meliputi mereka dalam semua keadaan, zaman, hari-hari, jam dan detik-detik mereka, serta mengetahui semua yang ada di bumi dan di langit. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya walau seberat zarrah, dan bahkan yang lebih kecil lagi dari itu di semua kawasan bumi, laut, dan bukit-bukit. Allah berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتٰبٍ مُبِيْنٍ

“Pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.s. Al-An’am 6:59).

Sebagai pencipta segala sesuatu, maka Allah adalah Zat pemilik seluruh pengetahuan tentang ciptaan-Nya. Demikian Sayyid Quthb menegaskan dalam tafsirnya, bahwa Dialah Allah yang mencipta dan yang mengajarkan. Dari-Nyalah permulaan dan pertumbuhan. Dari-Nyalah pengajaran dan ilmu pengetahuan. Manusia bisa mempelajari apa yang dipelajarinya dan mengajarkan apa yang diajarkannya, namun sumber semuanya adalah Allah yang menciptakan dan mengajarkan.

Dengan pengetahuan yang tiada batas, Allah bebas memberikan ilmu kepada hamba-Nya yang mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa memohon agar Allah memberikan kemurahan pengetahuan. Sebagaimana doa-doa kita: “Rabbana zidna ‘ilmaan naafi’a, warzuqna fahma”. Allah berfirman:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَآءَ

“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Baqarah: 255).

Manusia dimuliakan karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya, bahkan istilah “’Alim” pun dibenarkan Al-Qur’an untuk disandang manusia. Meskipun demikian, betapa pun dalam dan luasnya ilmu manusia, terdapat sekian perbedaan antara ilmunya dan ilmu Allah.

Dalam meneladani kemahatahuan (al-‘Alim) Allah, manusia hendaknya terus menerus berupaya menambah ilmunya. Dalam upaya tersebut manusia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya mata, telinga, akal dan kalbu untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya ilmu empiris, tetapi juga ilmu yang bersifat non empiris yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.

Ilmu seseorang harus membawanya kepada iman, selanjutnya ini mengantarnya kepada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah. Seperti
وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوْبُهُمْ

“Supaya orang-orang yang yang mempunyai ilmu mengetahui bahwa dia (Al-Qur’an) adalah benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman, kemudian hati mereka tunduk kepada-Nya” (Q.s. Al-Haj:54).

Dengan meyakini kemahatahuan Allah, kita seharusnya mewujudkannya dalam perilaku kita sehari-hari seperti: bersikap jujur dan senantiasa merasa diperhatikan oleh Allah, merasa takut melakukan dosa walaupun saat sendiri, suka melakukan kebaikan meskipun kecil, merasa randah diri dan hina di hadapan Allah, tidak merasa jemu untuk terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan.

Allah mengakhiri ayat ini dengan mengungkapkan kemahakuasaan-Nya atas segala sesuatu. Dalam Tafsir Ruh al-Ma’aniy disebutkan bahwa penetapan sifat Qudrah (kuasa) setelah Ilmu (mengetahui) mengindikasikan kecaman yang sempurna. Seakan-akan Allah berfirman: “Allah memperingkatkan kalian atas diri-Nya karena Dia itu disifati oleh ilmu dan kekuasaan atas segala sesuatu, oleh karena itu janganlah kalian memberanikan diri untuk durhaka kepada-Nya dan mendukung musuh-musuh-Nya secara sembunyi maupun terang-terangan karena Dia maha kuasa untuk memberi adzab atasnya.

Ibnu Katsir menambahkan bahwa di balik kalimat ini terkandung makna yang memperingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan selalu khawatir akan siksaan-Nya, supaya mereka tidak berani mengerjakan apa-apa yang dilarang dan tidak disukai oleh-Nya. Karena sesungguhnya Allah mengetahui semua perkara mereka, dan Dia Mahakuasa untuk menyegerakan siksaan-Nya terhadap mereka. Jika Dia memberikan masa tangguh kepada seseorang di antara mereka, maka sesungguhnya Dia sengaja menangguhkan siksaan-Nya, kemudian pada saatnya Dia akan menimpakan siksaan kepadanya dengan siksaan dari Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

*) Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Tausiah: Hikmah dari Kemahatahuan dan Kemahakuasaan Allah"

 
Copyright © 2015 Fauzi Ahmad
Template by Kunci Dunia
Kembali ke atas